Breaking News
recent

Sifilis Meningkat Tajam, Pemerintah Jepang Bentuk Tim Khusus


Penyakit sifilis mengalami peningkatan tajam di Jepang, terutama di kalangan wanita muda. Hal ini  mendorong kementerian kesehatan membentuk tim penelitian khusus untuk menemukan cara menghentikan penularan penyakit s3ksual ini.

Menurut laporan rumah sakit dari seluruh Jepang ada 4.259 kasus infeksi sifilis (treponema pallidum) mulai dari 1 Januari hingga awal Desember 2016. Itu berarti naik 77 persen, dari 2.412 kasus yang tercatat pada periode yang sama tahun 2015, dan naik lebih dari tujuh kali lipat dibanding satu dekade lalu.

Sebagian besar kasus diyakini disebabkan oleh hubungan heteroseksual (berganti pasangan s3ks). Namun beberapa kasus angka penyebaran dari ibu kepada anak pun disebut mengalami peningkatan.


Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Tenaga Kerja mendesak warga yang merasa diri mereka berisiko terserang sifilis untuk menjalani pemeriksaan secepatnya. Sebab, penyakit ini tetap dapat menyebar, meski penderita belum merasakan keluhan apa pun.

Perilaku kaum muda Jepang yang senang berganti pasangan s3ks, kegiatan para pekerja industri s3ks, dan lonjakan wisatawan dari negara-negara dengan tingkat infeksi yang tinggi sering disebut sebagai penyebab, namun penyebab sebenarnya dari pesatnya penularan sifilis selama dekade terakhir ini masih belum jelas.

Pada saat pemeriksaan skrining pasien sifilis, dokter akan mengajukan pertanyaan apakah mereka baru-baru ini melakukan hubungan s3ks. Setelah itu mereka harus mengajukan laporan sesuai dengan hukum yang mengatur penyakit menular, mendokumentasikan usia, dan jenis kelamin, tapi tidak perlu mencantumkan informasi yang lebih spesifik, seperti kebangsaan atau pekerjaan.

Kasus Penularan Sifilis Paling Banyak Terjadi di Shinjuku Ward, Tokyo

Shinjuku Ward, Tokyo, merupakan pusat hiburan dan kehidupan malam di Jepang. Laporan dari rumah sakit setempat mengatakan bahwa 40 persen kasus sifilis di Tokyo berasal dari tempat ini, yang juga berarti 20 persen dari semua kasus di seluruh Jepang.

Menanggapi kondisi itu, otoritas kesehatan di Shinjuku Ward mendorong semua rumah sakit untuk menanyakan latar belakang pasien, apakah mereka bekerja di bisnis hiburan dan kebangsaan pasien. Data tersebut diharapkan bisa menemukan rute utama penyebaran sifilis di Jepang.


"Kami bermaksud untuk mengklarifikasi kelompok orang yang paling berisiko terjangkit penyakit ini dan menghentikan penyebaran infeksi dengan mendidik warga tentang bagaimana mencegah dan menyembuhkan penyakit menular berbahaya ini," kata ketua tim Makoto Onishi, Kepala Seksi bidang Bakteri di Institut Nasional Penyebaran Penyakit Menular Jepang.

Penyebaran sifilis dan gejalanya

Pada tahap awal penyebaran sifilis ini, pengidap hanya akan merasakan ruam dan benjolan-benjolan kecil di bagian terinfeksi, misalnya di area alat vital. Namun, gejala itu akan hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, dalam fase kedua, kira-kira akan terjadi tiga bulan kemudian, pengidap akan mengalami munculnya ruam di telapak tangan dan telapak kaki. Lagi-lagi, gejala ini pun akan lenyap dengan sendirinya.

Tanpa perawatan medis, infeksi ini bisa menyebabkan peradangan di seluruh tubuh tiga tahun kemudian, dan pada akhirnya mungkin akan menyebabkan kerusakan otak dan jantung.


"Penggunaan kondom untuk mencegah penyebaran penyakit ini cukup efektif, tetapi itu saja tidak cukup. Semua orang berisiko, kecuali mereka yang secara spesifik memiliki pasangan s3ks yang benar-benar bebas dari sifilis," kata Kunio Kitamura, seorang dokter kandungan dan ginekolog yang menjabat sebagai kepala Asosiasi Keluarga Berencana Jepang.

Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui s3ks oral, yang akan menyebabkan luka di dalam rongga mulut, katanya.
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.