Breaking News
recent

Perbedaan Orang Sabar Dengan Orang Penakut, Pengalah, Jaim, Pemalu, dan Tak Mampu


Sabar adalah salah satu sifat yang paling disukai oleh Allah SWT. Dia akan memberikan ganjaran yang sangat tinggi bagi orang-orang yang mampu berlaku sabar. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 157, "Mereka orang-orang sabar) Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Namun sayangnya, sebagian besar dari kita tidak mampu berlaku sabar. Padahal, semua nabi anutan kita berlaku sabar. Mereka sabar dalam segala derita dan sabar pula dalam segala kemewahan. Karena kemewahan itu juga adalah ujian. Nabi Sulaiman pernah diuji dengan kekayaan yang melimpah ruah. Tapi dia bersabar, dan mampu mengendalikan diri. 


Sabar itu sering kita artikan dengan sikap menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Tapi nampaknya kita perlu meluruskan persespsi bahwa tidak semua sikap menahan itu bisa dikatakan sabar. Kita harus mampu membedakannya dengan jelas. 

Mari kita lihat penjelasan dan analogi-analogi berikut.


Tak berbuat karena takut; bukan berarti sabar

Suatu hari kamu sedang jalan-jalan, lalu tiab-tiba ada orang yang mengetok kepalamu tanpa alasan yang jelas. Kamu merasa sakit di kepala, terlebih-lebih lagi di hati. Karena, kamu merasa tidak punya salah, tapi kenapa di ketok?

Ingin sekali rasanya segera membalas perbuatannya yang kurang ajar itu. Namun, setelah kamu lihat orangnya besar, tingi, dan berotot, niatmu menjadi urung. Kamu pikir jika kamu balas perbuatannya, kamu pasti makin babak belur. Akhirnya, kamu malah berkata, "Maaf Mas, ada apa ya mengetok kepala saya begitu keras?"

Sahabat, itulah contoh orang penakut, bukan orang sabar. Sama sekali bukan orang sabar.
Sabar itu bukan berarti tidak harus membalas.

Mengalah pada saat hak kita diambil orang; bukan berarti sabar

Suatu hari tetanggamu membangun pagar. Kalihatannya pagar itu dibangun melebihi batas tanah yang dimilikinya. Tanah milikmu termasuk ke dalam pagarnya sebanyak 2 jengkal. Kamu tahu bahwa tanahmu, hakmu, sudah dirampasnya. Tapi kamu tidak melakukan komplain kepadanya karena tidak ingin ribut-ribut dengan tetangga. Kamu mengalah dengan hati dongkol.

Sahabat, itulah contoh orang yang suka mengalah, bukan orang yang sabar.
Sabar itu bukan berarti membiarkan hak kita diambil orang.

Menunggu sesuatu menjadi lebih baik; itu belum tentu sabar

Sebelum berangkat ke pesta kamu sudah bersiap-siap sedemikian rupa. Memakai baju terbaik, celana, sepatu, parfume, dan aksesoris, juga kamu pilih yang terbaik yang kamu punya. Sesampai di tempat pesta, kamu berjumpa dengan cewek yang selama ini kamu idam-idamkan untuk dijadikan pasangan hidup. Pada saat itu dia sedang asik bercengkerama dan bercanda dengan teman-teman perempuannya. Sayangnya, pakaiannya jauh di bawah standar bila dibanding dengan stelanmu malam itu. 


Meskipun kamu sangat ingin melepas rindu dan bercakap-cakap dengannya malam itu, tapi kenyataannya kamu bahkan tidak menyapanya, apalagi mencoba membuat komunikasi agar hubunganmu lebih dekat dengannya. Bukan karena kamu tidak ingin menjadi pengganggu keakraban yang sedang terjalin antara mereka, tapi karena si dia berpenampilan tidak sesuai dengan standarmu malam itu.

Sahabat, itulah contoh orang yang jaim, bukan orang yang sabar.
Sabar itu bukan berarti harus menunggu dia setara dengan kita.

Tidak menghadiri acara first class; bukan berarti sabar

Kamu bertetangga dengan orang yang sangat kaya. Sore ini kamu diundang untuk makan malam di rumahnya. Tapi kamu langsung saja memutuskan untuk tidak hadir pada acara tersebut karena kamu tidak memiliki pakaian yang memadai. Kamu yakin bahwa orang-orang yang akan hadir pada acara tersebut pastilah orang-orang berada, yang memakai pakaian yang mahal-mahal. Kamu merasa rendah diri jika hadir pada acara yang diadakan oleh tetangga kayamu itu.

Sahabat, itulah contoh orang yang rendah diri, malu, segan, bukan orang yang sabar.
Sabar itu bukan berarti tidak hadir ke acara kelas satu.

Menahan diri untuk tidak membeli barang mewah karena tak ada uang; bukan berarti sabar

Saat kamu jalan-jalan ke mall kamu melihat sepatu yang sangat menarik perhatianmu. Sayangnya, harga sepatu tersebut jauh di atas jangkauanmu. Terpaksa kamu harus menahan diri untuk membelinya. Padahal kamu tahu bahwa sepatu tersebut akan membuatmu lebih percaya diri.

Sahabat, itulah contoh orang yang tidak mampu, bukan orang yang sabar.
Sabar itu bukan berarti tidak membeli barang-barang mahal.

Jadi, apakah sabar itu sebenarnya?

Jika kita melihat pengertian sabar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah 1. tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu.


Sebetulnya sabar itu memiliki arti yang sangat luas; lebih luas daripada definisi yang tertulis di KBBI di atas. Namun, untuk mempermudahnya marilah kita artikan bahwa sabar itu adalah menahan diri untuk tidak melakukannya padahal kita mampu.

Saat kepala kita diketok, dan kita yakin mampu menghajar orang yang melakukannya, tapi tidak kita balas karena kita tahu itu yang disukai Tuhan; itulah sabar.

Kita tidak mengklaim tanah kita yang diambil tetangga dengan alasan Tuhan suka pada orang yang menjaga hubungan dengan tetangga dan mengikhlaskanya, itulah sabar.

Kita tidak menyapa gadis idaman kita malam itu karena tidak ingin menganggu keakrabannya dengan teman-temannya, kita juga ingin mejaga perasaannya agar tidak minder ketika berhadapan dengan kita yang memakai stelan mewah; alasan itu pasti disukai Tuhan; dan itulah sabar. 

Kita tidak membeli sepatu mewah itu, karena khawatir akan menjadi orang yang sombong dan suka pamer. Padahal kita mampu membeli sepatu itu bahkan dua pasang sekaligus; tapi kita menahan diri. Itulah sabar.

Seharusnya kita tetap menghadiri undangan makan malam tetangga kita yang kaya raya itu, meskipun pakaian kita tidak sebanding dengan tamu-tamu yang lain. Meskipun nantinya kita bakalan diolok-olok, tapi kita tidak akan membalas. Kita hadir karena tetangga kita mengundang kita untuk hadir. Itulah Sabar.
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.