Friday, February 3, 2017

8 Alasan Karyawan Hebat Berhenti dari Tempat Kerja

No comments :

8 Alasan Karyawan Hebat Berhenti dari Tempat Kerja
(Meskipun Mereka Sangat menyukai Pekerjaannya)


Semua orang memimpikan tempat kerja yang nyaman dan menyenangkan. Karena, di sanalah mereka akan menghabiskan waktu, menyalurkan kemampun, dan melakukan hal-hal kreatif. Tempat kerja bukanlah hanya ladang tempat mencari nafkah, tetapi juga merupakan rumah kedua, tempat bertumbuh dan menua bersama rekan kerja.

Banyak sekali hal-hal yang pantas di syukuri setiap hari, ketika kita bekerja di kantor. Kursi yang nyaman tempat kita duduk, pemandangan yang indah di luar jendela, rekan-rekan kerja yang ramah dan selalu siap membantu saat kita kesulitan, atasan yang suka memberi pujian ketika kita berhasil melakukan hal-hal kecil di luar beban kerja. Tak jarang, semua itu menjadi hal yang kita rindukan dan membuat kita selalu bersemangat untuk datang ke kantor. Kita merasa hebat ketika sedang mengerjakan semua itu. Kita menjadi diri sendiri ketika berada di kantor.

Namun, ketika semua itu tidak lagi kita temukan, hilang sudah semangat kita untuk datang ke tempat kerja. Meskipun kita tetap datang setiap hari, namun itu hanya karena kebutuhan hidup. Pekerjaan yang sangat kita sukai dulu sekarang menjadi beban yang sangat memuakkan. Jam pulang adalah hal yang paling ditunggu-tunggu setiap hari.


Ada beberapa hal yang membuat seseorang sangat ingin berhenti dari pekerjaannya, meskipun mereka sangat menyukai pekerjaan yang mereka lakukan. Tak jarang mereka adalah orang-orang terhebat di bidang itu. Tapi, karena beberapa hal mereka tak sanggup lagi bertahan dan ingin segera menemukan tempat kerja baru.

Berikut adalah 8 alasan yang membuat karyawan hebat ingin segera berhenti dari tempat kerja, yang kami petik dari laman lifehack.com.

1. Tidak dihormati dan tidak dihargai

Ketika pekerja diperlakukan seperti mentimun bungkuk, dia akan merasa rendah dan tidak berharga. Kadang-kadang, pengusaha hanya peduli dengan keuntungan, output, produktivitas, dan stakeholder menyenangkan. Faktor-faktor ini tentu penting bagi kesuksesan bisnis, tetapi tidak akan mungkin tercapai jika pekerjanya merasa seperti dianiaya.

Para pekerja itu juga manusia. Mereka butuh dihargai, diberi martabat, dan motivasi untuk tetap terus produktif. Jika pekerja diberi gaji rendah, praktik kerja yang tidak fleksibel, tidak diberikan tunjangan keluarga dan kesehatan, lingkungan kerja yang kurang menyenangkan, mereka cenderung untuk berhenti. Mereka merasa diremehkan. Mereka tidak akan bekerja dengan optimal dan akan menyembunyikan keahlian yang dimiliki jika terus-menerus diabaikan.

2. Tak ada peluang karier

Tak ada orang yang mau melakukan hal yang sama setiap hari, selama sisa hidupnya. Mereka ingin merasa seolah-olah mereka belajar sesuatu dan maju dalam karirnya. Mereka berharap untuk dilatih dan dididik sehingga mereka dapat meningkatkan keterampilan dan pengalaman. Mereka ingin tumbuh bersama dengan organisasi tempat mereka bekerja dan memiliki bukti kerja keras yang mereka lakukan selama ini. Mereka ingin variasi, kegembiraan, dan tantangan. Jika pihak kantor tidak memberikan kesempatan itu kemungkinan besar mereka akan berhenti dan mencari kantor lain yang menjanjikan peluang karier yang lebih baik.

3. Ketidaksetaraan

Tak seorang pun ingin bekerja di lingkungan kerja yang rasis, ageist, nepotis, dan diskriminatif. Waktu telah jauh berubah. Jika lingkungan kerja masih sama saja seperti beberapa dekade yang lalu dalam hal praktik kerja dan kebijakan, maka para pekerja cenderung akan berhenti bahkan sebelum tahun pertama. 


Pemikiran manusia telah berkembang jauh lebih intelek, dan ketika ketidaksetaraan marak terjadi di tempat kerja, maka mereka akan sulit untuk bertahan. Tempat kerja harus beradaptasi dengan kebutuhan individu dan memungkinkan untuk keragaman dan fleksibilitas. Orang tidak lagi mentolerir tempat kerja yang menganut budaya usang. Seandainyapun mereka tetap bertahan dikarenakan tidak memiliki pilihan lain maka dijamin hasil kerja yang diberikan tidak maksimal.

4. Moral rendah
Para pekerja yang tidak bahagia di tempat kerja bisa dilihat pada saat dia berjalan memasuki pintu. Dia berubah menjadi sinis, tak sopan, dan mencari-cari alasan untuk menghindar menjadi produktif.

Membangun sebuah tim yang solid adalah komponen penting untuk keberhasilan kerja apapun. Setiap individu pada setiap tingkatan harus peduli satu sama lain di tempat kerja. Ketika ada gangguan dalam komunikasi dan kegagalan dalam menempatkan upaya bersama di tempat kerja, maka tak seorang pun lagi yang ingin berada di sana. Hal ini akan menjadi alasan yang sempurna bagi mereka untuk mengajukan resign sebelum tempat kerja memberikan efek buruk pada kesehatan mental mereka.

5. Tak ada pengakuan atau hadiah

Setiap orang membutuhkan pujian dan penghargaan. Kadang-kadang, hanya kata terima kasih atau diakui atas usaha yang dilakukannya, itu sudah cukup. Mereka tak butuh piala emas atau cek bonus puluhan juta untuk merasa dihargai - Namun, pemberian insentif tentu akan membuat penghargaan itu jauh lebih  memotivasi. Jika mereka belum pernah menerima ucapan terima kasih atau hadiah atas usaha keras yang mereka lakukan, maka mereka akan merasa seperti pekerja yang tak terlihat dan tak berharga. Selanjutnya mereka akan dengan sangat mudah memutuskan untuk berhenti.

6. Mempromosikan orang yang salah

Inovasi dan ide-ide adalah denyut nadi sebuah organisasi, dan semua orang harus diberi kesempatan untuk menunjukkan inisiatif. Beberapa tempat kerja yang sangat menentang perubahan, meskipun kadang-kadang perubahan tersebut berarti kemajuan besar dalam praktik kerja atau produktivitas. Kebanyakan pekerja selalu memulai pekerjaan dengan energi positif dan idealisme, namun akan  dengan cepat digagalkan oleh manajemen yang tidak memiliki visi. Ketika antusiasme terus berkurang, para pekerja biasanya menjadi takut mengambil risiko dan mencoba hal-hal baru. Selanjutnya, pilihan untuk resign menjadi lebih menarik, mencari sesuatu yang baru.

7. Berkurangnya rasa antusias

Beberapa tempat kerja mengembangkan budaya memberikan penghargaan kepada orang-orang yang salah. Ada pepatah yang mengatakan, "bos yang baik akan mempekerjakan orang-orang yang lebih pintar darinya." Hal ini tidak akan pernah terjadi jika si bos memiliki ego yang besar. Dia akan merasa terancam oleh pekerja yang menunjukkan kecerdasan dan kemampuan mereka.


Hal yang sering terjadi adalah sebaliknya, bahwa orang-orang yang dipromosikan untuk menempati jabatan yang lebih tinggi adalah pekerja yang mau tunduk daripada pekerja yang penuh inovatif dan kompetitif. Hal ini dilakukan atas dasar untuk melindungi struktur kekuasaan ketimbang mengembangkan sistem yang profesional, kompeten, dan efisien.

8. Hirarki lebih penting daripada otonomi

Ketika hirarki lebih penting daripada nilai orang yang memberikan kontribusi, tempat kerja sesungguhnya telah kehilangan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik dan lebih maju. Pada saat yang sama mereka juga menghancurkan kemandirian dan keterampilan pengambilan keputusan yang sangat penting dalam semua pekerjaan.

Kepemimpinan yang bijaksana akan memberdayakan staf untuk lebih mandiri dan teliti agar mampu berurusan dengan masalah yang lebih kompleks. 


Perebutan kekuasaan dan permainan pikiran hanya bekerja terhadap tujuan bersama dan berkontribusi untuk tempat kerja beracun. Staf akan berhenti oleh puluhan ketika mereka infantilized dan merasa bahwa mereka tidak bisa dipercaya untuk membuat bahkan pilihan yang paling dasar sendiri, harus mendapatkan izin untuk setiap gerakan yang mereka buat. Ini adalah kepemimpinan malas dan tidak berpendidikan yang memaksa pekerja yang baik untuk berhenti kerja disfungsional.

No comments :

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

reno test