Breaking News
recent

Hukum Masturbasi/Onani dalam Islam

Hukum melakukan masturbasi, onani, rancap

Pada saat ini para remaja dan orang dewasa sudah tidak merasa malu lagi menceritakan tentang aib yang mereka lakukan. Misalnya, mereka dengan senang hati dan tanpa merasa malu menceritakan tentang kegiatan masturbasi/onani/rancap yang mereka lakukan kepada teman kantor atau tetangga.

Padahal, ini adalah aib yang seharusnya tidak boleh diceritakan kepada setiap orang. Meskipun boleh diceritakan kepada orang-orang tertentu demi tujuan tertentu.

Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan penulis. Walaupun ada ulama yang membolehkan kita melakukan masturbasi/onani dengan beberapa alasan, namun kita juga harus menyadari bahwa sebenarnya sebagian besar ulama mengharamkan perlakuan masturbasi/onani ini. Oleh karena itulah penulis menyebutkan bahwa kegiatan ini adalah sebuah aib yang seharusnya disimpan rapat-rapat dan tidak pernah diceritakan sampai kapanpun kepada orang yang tidak berkepentingan.

   
Pengertian Masturbasi/Onani (Istimna’)

Istimna’ adalah usaha untuk mengeluarkan mani. Pemenuhan dan pemuasan kebutuhan seksual dengan merangsang alat-alat kelamin sendiri dengan tangan atau alat lain. Dalam bahasa Indonesia kita sering menyebutnya dengan masturbasi, onani, rancap.

Pengertian onani secara istilah adalah kebiasaan membangkitkan nafsu seks dan memuaskannya dengan dilakukan sendiri (dengan bantuan tangannya sendiri, busa sabun, atau alat pelumas lain, atau alat bantu seksual) tanpa jenis kelamin yang lain.

Islam memandang hal ini sebagai perbuatan yang tidak etis dan tidak pantas dilakukan.

Dalil-Dalil yang Menjelaskan Hukum Masturbasi/Onani (Istimna’)

1. Yang mengharamkan
Umumnya para ulama yang mengharamkan masturbasi berpegang kepada firman Allah SWT. Allah berfirman,  ‘’Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali terhadap istrinya atau hamba sehayanya, mereka yang demikian itu tidak tercela. Tetapi barang siapa yang mau mencari selain yang demikian itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang melewati batas.’’  (Al-Mu’minun: 5-7)

Mereka memasukkan masturbasi/onani sebagai perbuatan tidak menjaga kemaluan.

Dalam kitab Subulus Salam jus 3 halaman 109 disebutkan hadist yang berkaitan dengan anjuran untuk menikah. Rasulullah telah bersabda kepada kami, "Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yang telah memiliki ba'ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung." (HR Muttafaqun 'alaih).

Di dalam keterangannya pada kitab Subulus Salam, Ash-Shan’ani menjelaskan bahwa dengan hadist itu sebagian ulama Malikiyah mengharamkan masturbasi/onani dengan alasan bila masturbasi/onani dihalalkan, seharusnya Rasulullah memberi jalan keluar dengan masturbasi/onani saja, karena lebih sederhana dan mudah. Tetapi Beliau malah menyuruh untuk berpuasa.

Sedangkan Imam Asy-Syafi`i mengharamkan masturbasi dalam kitab Sunan Al-Baihaqi Al-Kubro jilid 7 halaman 199 dalam Bab Masturbasi ketika menafsirkan ayat Al-Quran surat Al-Mukminun "…Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya...". Begitu juga dalam kitab beliau sendiri Al-Umm juz 5 halaman 94 pada bab Masturbasi.

Imam Ibnu Taymiyah ketika ditanya tentang hukum masturbasi beliau mengatakan bahwa masturbasi itu hukum asalnya adalah haram dan pelakunya dihukum ta`zir, tetapi tidak seperti zina. Namun beliau juga mengatakan bahwa masturbasi dibolehkan oleh sebagian sahabat dan tabiin karena hal-hal darurat seperti dikhawatirkan jatuh kepada zina atau akan menimbulkan sakit tertentu. Tetapi tanpa alasan darurat, beliau tidak melihat adanya keringanan untuk membolehkan melakukan masturbasi.


2. Yang membolehkan

Diantara para ulama yang membolehkan istimna` antara lain Ibnu Abbas, Ibnu Hazm dan Hanafiyah dan sebagian Hanabilah.

Ibnu Abbas mengatakan masturbasi lebih baik dari zina tetapi lebih baik lagi bila menikahi wanita meskipun budak.
Ada seorang pemuda mengaku kepada Ibnu Abbas,”Wahai Ibnu Abbas, saya seorang pemuda dan melihat wanita cantik. Aku mengurut-urut kemaluanku hingga keluar mani”. Ibnu Abbas berkata,”Itu lebih baik dari zina, tetapi menikahi budak lebih baik dari itu (masturbasi).

Mazhab Zhahiri yang ditokohi oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla juz 11 halaman 392 menuliskan bahwa Abu Muhammad berpendapat bahwa istimna` adalah mubah karena hakikatnya hanya seseorang memegang kemaluannya maka keluarlah maninya. Sedangkan nash yang mengharamkannya secara langsung tidak ada. Sebagaimana dalam firman Allah, “Dan telah Kami rinci hal-hal yang Kami haramkan”

Sedangkan masturbasi bukan termasuk hal-hal yang dirinci tentang keharamannya maka hukumnya halal. Pendapat mazhab ini memang mendasarkan pada zahir nash baik dari Al-Quran maupun Sunnah.

Sedangkan para ulama Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) dan sebagian Hanabilah (pengkikut mazhab Imam Ahmad) sebagaimana tertera dalam Subulus Salam juz 3 halaman 109 dan juga dalam tafsir Al-Qurthubi juz 12 halaman 105- membolehkan masturbasi dan tidak menjadikan hadits ini tentang pemuda yang belum mampu menikah untuk puasa di atas sebagai dasar diharamkannya masturbasi. Berbeda dengan ulama Syafi`iah dan Malikiyah. Mereka memandang bahwa masturbasi itu dibolehkan. Alasannya bahwa mani adalah barang kelebihan. Oleh karena itu boleh dikeluarkan, seperti memotong daging lebih.

Namun, sebagai catatan, bahwa ada dua pendapat dari mazhab Hanabilah, sebagian mengharamkannya dan sebagian lagi membolehkannya. Bila kita periksa kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ibni Hanbal juz 4 halaman 252 disebutkan bahwa masturbasi itu diharamkan.

Ulama-ulama Hanafiah juga memberikan batas kebolehannya itu dalam dua perkara:
1. Karena takut berbuat zina.
2. Karena tidak mampu kawin.


Sedangkan dari sisi kesehatan, umumnya para dokter mengatakan bahwa masturbasi itu tidak berbahaya secara langsung. Namun untuk lebih jelasnya silahkan langsung kepada para dokter yang lebih menguasai bidang ini. Sedangkan bila tujuannya adalah untuk test medis dimana urgensinya memang sudah jelas, maka masturbasi bisa dibenarkan.
(M. Khoiri, dari berbagai sumber)
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.