Wednesday, June 15, 2016

Manajemen Syahwat Mutlak Dibutuhkan

No comments :

Apa yang ada dalam perasaan Anda ketika melihat photo gadis cantik di atas? Senang, suka, cinta, tertarik, nafsu, dan inginkan dia menjadi pacar, teman, atau keluarga dekat, bukan? Tapi sayang, Innalillahi wainalillahi rojiun. Dia sudah meninggal dunia. Jadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh tetangganya sendiri. Tempat kejadian perkaranya di warung milik neneknya yang terletak di Desa, Kecamatan Kadudampit, Sukabumi pada Sabtu, 11 Juni 2016.

Andaikan dia adalah pacar, teman, adik, kakak, atau anak Anda, apa perasaan Anda setelah mendengar kabar tersebut? Kecewa, sedih, marah, dan dendam? Itu manusiawi. Tentu saja semua orang akan berperasaaan sama seperti itu. Tak ada yang rela gadis cantik, manis, anggun, dan kelihatannya baik, bernama Angesti Sistiani ini diperlakukan dengan kejam dan biadab oleh seseorang yang tak mampu mengatur syahwatnya.

Tidak hanya Angesti, beberapa bulan terakhir ini media tanah air terus-menerus mengabarkan tentang kasus pemerekosaan dan pembunuhan secara beruntun. Gadis-gadis muda berjatuhan menjadi korban. Ada yang diperkosa beramai-ramai dibawah pengaruh minuman keras, ada yang dibunuh dengan cangkul, dan terakhir ini, Angesti Sistiani, yang di perkosa dan dibunuh di dalam bulan suci Ramadhan. 

Baca juga : Cara Membedakan Godaan Nafsu dan Godaan Setan

Apa yang salah dengan kita? Mediakah yang terlalu vulgar? Pendidikankah yang gagal? Pengamalan agamakah yang terlalu dangkal? Padahal kita adalah negara dengan penduduk yang mayoritasnya adalah beragama Islam, agama rahmatan lil 'alamin, dan menganut adat-istiadat ketimuran yang penuh dengan budaya malu.

Tidak bisa tidak, saat ini manajemen syahwat mutlak dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat agar tak pernah terjadi lagi kejadian-kejadian biadab seperti ini.

Apakah pendidikan agama, pendidikan moral, dan sex education masih tidak cukup?

Bukan tidak cukup. Tapi kita perlu meng-upgrade yang sudah kita miliki. Karena "musuh-musuh" kitapun semakin canggih. Dulu media tontonan tak sevulgar dan sesadis seperti sekarang, model pakaian tidak terbuka dan seketat sekarang, cara bergaul tidak sebebas sekarang. Masa kita masih mengahadapi musuh yang sudah berbeda dengan cara sama saja dengan yang dulu-dulu.

Baca juga : 9 Tips Bermesraan bagi Pengantin Baru di bulan Ramadhan

Belajar manajemen keuangan kita jadi ahli mengatur keuangan, belajar menajemen waktu kita jadi ahli memanfaatkan waktu, belajar manajemen kalbu kita menjadi ahli mengatur dan merekayasa perasaan kita sendiri, dan belajar manajemen syahwat, insya Allah kita akan ahli dalam hal menjinakkan syahwat. 

Manajemen syahwat tidak perlu menjadi sebuah pelajaran di sekolah. Karena ini akan menambah tugas bagi banyak pihak. Cukuplah diselipkan saja di dalam pelajaran-pelajaran yang lain dengan menambah porsi jam yang lebih banyak. Kampanyekan dengan lebih giat di semua tempat, pada setiap waktu. Karena masalah pornografi dan kekerasaan ini betul-betul sudah sangat krusial dan sangat mengkhawatirkan saat ini. Perlu ada langkah nyata dari semua pihak agar hal seperti ini tidak hanya di tangani oleh bidang hukum saja. Karena lembaga hukum baru berfungsi apabila peristiwa sudah terjadi. Padahal yang kita harapakan adalah peristiwa biadab dan memalukan ini tidak pernah terjadi.
Ingat, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.



Bagaimanakah manajemen syahwat ini diajarkan dan terapkan?

Sebetulnya semua agama telah mengajarkan tentang ini di dalam kitab suci. Jadi, laksanakan itu dengan bersungguh-sungguh. Hanya saja mulai sekarang kita harus menonjolkan bidang ini lebih mengemuka. Orangtua, orang dewasa, guru, ustad, polisi, hakim, pemerintah, dan semua pihak harus mampu menjadi role model yang bisa diteladani. Tak peduli apapun agama yang mereka anut dan dari suku apapun mereka. 

Baca juga : 12 Cara Untuk Berhenti Nonton Film Bokep Dan Onani

Terakhir, tataplah photo Angesti Sistiani di atas sekali lagi! Dia sudah terbaring di dalam kubur. Jika dia adalah anggota keluarga kita, teman dekat kita, kekasih hati kita, bagaimanakah perasaan kita? Cukupkah hanya dengan hanya menghukum berat pelakunya?
Jangan biarkan dia meninggal tanpa kita petik pelajaran berharga dari peristiwa pahit yang di alaminya.

No comments :

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

reno test