Breaking News
recent

Kisah Cinta Romeo dan Juliet Romantis?


Siapa yang tak mengenal kisah cinta Romeo dan Juliet yang berakhir tragis, karya William Shakespare ini? Seluruh dunia sudah mengetahuinya. Bahkan Hollywood telah berulang-ulang membuat film, drama, musikal, dan opera untuk kisah roman kuno dengan latar belakang budaya Itali ini. Di Indonesia, guru-guru di sekolahpun sering menyebutkan kisah ini untuk memberikan contoh dalam kajian sastra romantis. Sehingga kisah ini begitu merekat di dalam benak semua siswa, dan seolah-olah menjadi teladan yang pantas untuk ditiru.

Apakah memang kisah ini layak dikatakan romantis?
Inilah pertanyaan yang harus kita jawab dengan hati-hati. Karena di dalam kisah yang dinilai oleh banyak orang sebagai kisah yang sangat romantis ini menjadikan kata romantis kehilangan makna baik yang dikandungnya. Cengeng, itu makna dominan yang kita tangkap. Pemberontak, itu makna selanjutnya. Dan terakhir, kehilangan akal sehat. 

Baca juga : Defenisi Wanita Seksi dari 8 Negara Berbeda

Jika kita lihat kembali pesan moral yang ada dalam kisah ini sangatlah buruk. Bahkan tidak layak kita sebut sebagai sebuah kisah romantis. Mari kita urutkan satu persatu pesan moral yang dominan dalam kisah yang di sebut-sebut romantis ini!

1. Jika kamu cinta dengan kekasihmu maka kamu boleh melakukan apapun. Termasuk menantang kehendak orangtuamu.

Di sini, perbuatan menantang kehendak orangtua dikaburkan dengan mengedepankan tema yang lebih dominan, yakni Perjuangan Cinta Sejati. Kamu boleh mengabaikan bahkan melawan kehendak orangtuamu jika mereka menghalangimu untuk mendapatkan cinta sejatimu.
Tapi, tetap saja pesan moral yang di sampaiakn melalui perjuangan cinta sejati di sini hanya sebuah alasan yang digunakan untuk menutupi dosa besar menentang orangtua.

2. Lakukan kawin lari jika orangtua kedua belah pihak tetap tak merestui.

Apa nilai yang bagus dari sebuah pernikahan yang tak direstui oleh orangtua dari kedua belah pihak? Apakah ini yang disebut romantis? Ini malah menjadi contoh dan pengajaran yang sangat buruk. 
Kita semua wajib menolak pesan moral yang di sampaikan dalam kisah ini agar semua anak-anak kita nanti mau berjuang mendapatkan restu orangtuanya (yakni kita) untuk mendapatkan cinta sejati mereka. Jadi, perjuangan mereka lebih menjurus kepada mendapatkan restu orangtua. Bukan hanya sekadar ingin menyatu dengan kekasih, yang kelihatannya lebih mengarah kepada keinginan nafsu.

3. Buktikan cinta sejatimu sampai mati. Kamu bahkan boleh bunuh diri untuk membuktikannya.

Ini yang paling buruk. Rasanya tidak ada satu agamapun yang mengizinkan seseorang untuk bunuh diri dengan alasan apapun. Selain dari menanggung dosa besar pesan moral ini malah terlihat sangat cengeng.
Bukankah lebih hebat jika Romeo tetap hidup meski dalam penderitaan yang amat sangat karena ditinggal oleh Juliet yang mati suri. Di situlah harusnya dia menitik beratkan perjuangan cintanya, menjalani hari demi hari, memelihara cintanya kepada Juliet sampai mati. Ini baru boleh disebut dengan pejuang cinta sejati. Bukannya malah cinta yang membuatnya mati. 

Baca juga : 15 Mitos Pantangan yang Tidak Boleh Dilakukan dan Alasannya


Memang tak semua pesan dalam kisah ini buruk. Ada juga yang baik. Misalnya:

1. Cinta tak pandang bulu. Meski dengan musuh bebuyutan sekalipun.

Di sini ada pesan moral bahwa cinta itu berlaku adil untuk semua orang. Miskin, kaya, hitam, putih, kawan, lawan, terkenal, atau terkucilkan, semua punya hak untuk mencintai dan dicintai.  

2. Kematian Romeo dan Juliet menyadarkan Keluarga Capulet dan Keluarga Montague.

Permusuhan yang berkepanjangan antara kedua keluarga ini yang menempatkan Romeo dan Juliet dalam posisi yang sulit untuk menyatukan cinta mereka. Hingga akhirnya mereka berdua meninggal.
Setelah kematian Romeo dan Juliet baru kedua keluarga besar itu sadar tentang kesalahan yang mereka lakukan selama ini. Bahwa, tak ada baiknya saling bermusuhan. Merekalah sebenarnya yang menyebabkan kematian Romeo dan Juliet.

Jadi, setelah melihat dari pesan moral yang baik dan yang buruk dalam kisah ini mana yang lebih dominan menurut Anda? Masih pantaskah kisah ini di sebuat sebagai kisah yang romantis?
Penulis menyerahkan semua pertimbangan kepada Sahabat Populer untuk menjastifikasi.

Khusus untuk umat muslim, sebenarnya kita punya kisah cinta yang jauh lebih romantis, lebih bagus, dan lebih menarik. Sekaligus bisa menjadi teladan yang baik (uswatun khasanah) untuk kita contoh daripada kisah Romeo dan Juliet. Misalnya:

1. Kisah cinta Adam dan Hawa
2. Kisah cinta Ibrahim dan Siti Hajar dan Siti Sarah
3. Kisah cinta Rasulullah dan Khadijah binti Khuwailid
4. Kisah cinta Rasulullah dan Aisyah
5. Kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
6. Kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha
7. Kisah cinta Nabi Musa dan Safura
8. Kisah cinta Umar bin Abdul Aziz
9. Kisah cinta Abdurrahman ibn Abu Bakar


Baca juga : 25 Permainan Masa Kecil yang Sangat Dirindukan

Dijamin, semua kisah cinta di atas memiliki pesan yang moral yang baik. Meski ada beberapa yang perlu kita perhatikan dengan teliti dan cerdas. Tapi, pesan moral yang baik jauh lebih unggul dibanding dari kisah yang kelam. 

Carilah buku-buku atau tulisan yang memuat kisah-kisah cinta romatis di atas. Bacalah dan resapi pesan moralnya yang jauh berbeda daripada kisah cinta cengeng dalam tragedi Romeo dan Juliet.
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.