Breaking News
recent

Rajin Shalat Tapi Rajin Pula Maksiat. Mengapa Bisa Begitu?

Mari kita mulai pembahasan ini dengan membaca firman Allah SWT,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Berdasarkan ayat tersebut, seharusnya orang yang mendirikan shalat terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Tapi kenyataannya, yang kita lihat, banyak sekali orang yang tekun mengerjakan shalat, bahkan ditambah dengan shalat-shalat sunnah, namun rajin pula mengerjakan maksiat. Ini persis seperti orang yang suka menyogok, mencuri, atau pejabat yang suka korupsi. Padahal mereka sangat hafal dengan pancasila. Terutama sila ke-2 dan ke-5. Mengapa bisa begitu?

Perintah shalat itu selalu diawali dengan kata mendirikan shalat (aqimis sholah), bukan mengerjakan shalat. Mendirikan shalat artinya mengerjakan shalat dan menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam shalat itu hingga sampai ke shalat berikutnya. Orang-orang yang mampu melaksanakan hal seperti ini adalah orang yang mengerjakan shalatnya dengan hati dan jiwa secara khusuk.

Di dalam shalat kita banyak membaca ayat-ayat yang merupakan tunjuk ajar yang baik dan nasehat-nasehat. Misalnya, "ihdinas siratal mustaqim" yang berati tunjukilah kami jalan yang lurus.
Minimal sehari semalam kita membaca ayat ini sebanyak 17 kali. Melalui ayat ini kita berdoa agar dibimbing ke jalan yang lurus dan benar. Seandainya kita membaca, memahami, dan mengamalkan satu ayat ini saja dengan khusuk, insyaallah kita tidak akan terpikir untuk berbuat suatu kemungkaran. Bagaimana mungkin kita memohon lalu kita pula yang menolak apa yang kita mohon.

Itu baru satu ayat. Belum lagi ditambah dengan puluhan ayat-ayat yang lain kita baca sepanjang shalat.

Lalu, mengapa ada orang yang yang tekun mengerjakan shalat, bahkan ditambah dengan shalat-shalat sunnah, namun rajin pula mengerjakan maksiat?
Ini adalah indikator bahwa dia hanya mengerjakan shalat namun tidak mendirikan shalat. Berpuluh-puluh rakaat dalam sehari semalam. Tidak cukup hanya yang fardhu, ditambah pula dengan yang sunnah. Namun, sama sekali tak berbekas, karena dia hanya mengerjakan dengan raga tapi tidak dengan jiwanya. Ini persis seperti seseorang yang kedengarannya mampu berbicara dengan bahasa Jepang padahal dia sendiri tidak tahu arti dari kalimat-kalimat yang diucapkannya. Jadi nilainya tetap saja nol besar.

Orang yang seperti ini telah disindir oleh Rasulullah SAW dalam hadistnya, 
"Barang siapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.

Begitu juga dengan orang-orang yang sangat fasih dan hafal dengan sila ke-2 dan ke-5 Pancasila tapi tetap saja suka menyogok, mencuri dan korupsi. Mereka hanya sekedar fasih dan hafal. Namun tidak paham dengan makna yang tersirat di dalamnya. Mana mungkin kita berharap mereka akan mengamalkan nilai-nilainya.

Jadi Sahabat Populer, kembali ke urusan shalat di atas? Janganlah kita hanya mementingkan kuantitas saja, tapi mulailah kita mendalami ranah kualitasnya dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Meski dengan sedikit demi sedikit. Karena, Allah sangat menyukai amalan yang sedikit tapi dikerjakan dengan istiqamah. Wallahualam bissawab.
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.