Breaking News
recent

KORUPSI DAN MENCURI SAMA SEKALI TAK MENAMBAH REZEKI



Mari kita mulai tulisan ini dengan firman Allah SWT dalam Alquran.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka ” (QS Ar-Ra'd - 11).

Berdasarkan firman Allah di atas dapatlah kita jabarkan bahwa takdir Allah itu mutlak tapi menjalaninya adalah bersifat pilihan. Kita bisa berpindah dari satu takdir ke takdir Tuhan yang lain. Misalnya, takdir Tuhan menetapkan bahwa Anda berada dalam sebuah ruangan. Tapi Anda bisa berada di pinggir, di tengah, atau di sudut ruangan tersebut. Anda juga bisa memilih berbaring, duduk, atau berdiri di dalam ruangan itu. Tapi, satu yang pasti, Anda pasti tetap berada di ruangan itu.

Begitu juga halnya dengan Rezeki. Rezeki itu adalah takdir namun menjemputnya adalah pilihan.
Misalnya, takdir rezeki Sahabat hari ini adalah 1 karung beras. Tapi Sahabat menjemputnya dengan malas, dengan hanya membawa piring. Sampai di penghujung hari Sahabat hanya mengambil 4 piring beras saja. Jadi, hanya itulah rezeki Sahabat hari ini.

Lalu, ada pula orang yang ingin mencoba mendapatkan rezeki lebih dari 1 karung beras. Melebihi dari takdir rezeki yang sudah di tetapkan. Ia bekerja keras dengan cara-cara yang benar. Nah... Sahabat, kita kembali ke firman Allah di atas, bahwa Allah mungkin akan mengubah takdirnya karena ikhtiar kita. Barangkali saja karung beras kita akan diperbesar hingga melebihi dari karung orang lain.

Lalu, ada pula orang yang ingin mendapatkan rezeki yang lebih banyak namun dengan cara yang salah. Misalnya dengan cara korupsi dan mencuri. Dia tidak berusaha dengan cara-cara yang benar. Dia mengambil beras dari karung orang lain. Dia lupa bahwa rezeki itu tidak hanya beras, harta, dan uang saja. Dia lupa bahwa anak yang berbakti, istri yang sehat, istri yang solehah, dan kenyamanan, itu juga merupakan rezeki dari Allah.

Dia mungkin mendapatkan beras melebihi dari 1 karung, bisa jadi hingga 10 karung. Tapi, akhirnya beras itu habis juga dijual untuk membiayai anaknya yang sakit, istrinya yang boros, dan membeli hal-hal yang sebetulnya tidak bermanfaat dan tak memiliki nilai ibadah baginya.

Jadi, sama saja. Dia tetap mendapatkan 1 karung, tapi dosanyalah yang bertambah untuk 9 karung yang lain. Bukankah orang seperti ini adalah orang yang bodoh? Dia pikir dia dapat untung yang banyak, padahal yang dia dapat hanyalah kerugian. Celakanya lagi, dia tidak tahu bahwa sebenarnya dia rugi. Sekali lagi, bukankah orang seperti ini adalah orang yang sangat bodoh?

Untuk penutup, penulis ingin mengingatkan Sahabat tentang kisah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang meinitipkan untanya kepada seorang anak yang berjaga di depan masjid, karena beliau ingin melaksanakan shalat. Unta dititip lengkap dengan tali kekangnya.

Selesai shalat beliau keluar mesjid dan menemukan untanya sudah tidak ada tali kekangnya. Anak yang tadi dititipkan untanya juga sudah tidak ada disitu.

Karena mengendarai unta tanpa tali kekang akan membahayakan perjalanan, maka beliau memutuskan untuk pergi ke pasar untuk mencari tali kekang baru untuk untanya. Namun untuk kedua kalinya beliau terkejut, karena mendapati tali kekang yang dijual di pasar tersebut sama persis ciri-cirinya seperti milik beliau yang hilang.

Kemudian bertanyalah Sayyidina Ali tentang asal-usul tali kekang yang dijual di toko tersebut. Sang pemilik toko menjawab, “Aku tadi membelinya dari seorang anak kecil yang menjual tali ini kepadaku dengan harga 1 dirham” jawab pemilik toko.

Mendengar penjelasan ini, Sayyidina Ali justru bertasbih memuji keagungan Allah, “Subhanallah, Maha Suci Allah, Tuhan pemilik seluruh alam.”

Melihat hal ini, si penjaga toko agak kebingungan.

Sayyidina Ali yang mengerti kebingungan si penjaga toko kemudian menjelaskan.
“Tadi aku menyiapkan uang 1 dirham untuk memberi upah anak kecil yang menjaga untaku, namun ternyata ia justru mengambil tali kekangnya dan menjualnya kepadamu seharga 1 dirham. Subhanallah, ini adalah bukti bahwa rezeki Allah untuk hambanya sudah ditentukan dan tidak akan tertukar. Si anak tadi oleh Allah sudah ditakdirkan mendapat rezeki 1 dirham di hari ini, jika ia sabar maka seharusnya ia akan mendapatkannya dengan cara yang halal, namun karena ia kurang sabar akhirnya rezeki tersebut didapatkannya dengan cara yang haram."
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.