Breaking News
recent

Mengomel Ada Adabnya Juga Lho

Kita semua pasti pernah merasa jengah, jengkel, dan kesal karena diomeli. Mungkin karena intensitasnya terlalu sering, durasinya terlalu lama, omelannya tidak fokus, melebar kemana-mana, kadar emosinya tidak sesuai, atau bisa jadi juga karena omelan itu rasanya tidak tepat.
Efeknya, bukannya membuat kita jadi sadar, menyesal, dan berniat memperbaikinya. Tapi malah sebaliknya, membuat kita jengkel, marah, dendam, dan ingin mengulang kesalahan itu 100 kali lagi.

Mengutip perkataan Aristoteles,
"Siapapun bisa marah-marah, itu mudah. Tapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah."
Biasanya yang suka mengomel itu adalah perempuan. Mulai dari nenek, ibu, tante, bu guru, kakak, teman, pacar, sampai adik perempuan. Tapi bukan berarti semua perempuan adalah pengomel. Banyak juga yang sebaliknya, pendiam. Kita rindu ingin dengan suaranya.

Sedangkan, kebanyakan lelaki jarang yang suka mengomel. Tapi bukan berarti tidak ada. Lelaki biasanya lebih suka diam jika tak senang, atau kalau sudah sangat menyesak biasanya lelaki lebih suka main tangan daripada mengomel.

Entah mengapa perempuan mau membuang-buang waktu hanya untuk mengomel. Padahal, seringkali omelan itu bisa dipersingkat hanya dengan beberapa kalimat pendek saja. Efeknya malah bisa jauh lebih dahsyat.

Nah, jika kita sudah punya pengalaman bahwa diomeli itu sangat mengesalkan dan menjengkelkan maka pada saat kita yang berada pada posisi orang yang pantas mengomel hendaknya kita ingat bagaimana jengah dan kesalnya kita ketika kita diomeli.

Berikut ini adalah adab-adab yang seharusnya menjadi rambu yang harus kita perhatikan jika terpaksa harus mengomeli seseorang. Seperti kata orang tua-tua, boleh marah tapi jangan sampai lepas kendali.

1. Omelan akan lebih baik jika berupa nasehat dan tunjuk ajar


Jangan terlalu banyak membuang waktu dan energi hanya untuk meluapkan marah, memuaskan hati. Akan lebih baik kita isi dengan nasehat dan tunjuk ajar.

2. Bersifat menyadarkan


Tujuan kita mengomel itu adalah agar dia sadar. Jadi, fokuslah pada tujuan itu. Buat dia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan.

3. Jangan menjatuhkan martabat dan mental


"Adi, matikan TV-nya! Sadarlah, kamu tak akan pernah jadi penyanyi sampai kapanpun".
Sahabat pernah 'kan diomeli dengan kalimat seperti ini? Bagaimana rasanya? Langsung jatuh mental kan? Makanya jangan ucapkan juga kalimat sejenis ini kepada orang lain.

4. Jangan menghina dan melukai perasaan

Jangan pernah sesekali terniat untuk mengucapkan kata, hei pincang, kafir, anak haram, budak cacat, otak udang, tak bermoral, dan yang sejenis dengan itu. Karena efeknya cuma 2; melukai perasaan orang yang dituju, dan dendam ingin membalas.

5. Atur kadarnya yang sesuai, jangan meledak-ledak


Sesekali memukul itu memang pantas dilakukan jika kesalahannya sangat besar. Tapi, jika kita meledak-ledak hanya karena kesalahan sepele, bukankah ini zhalim?

6. Fokus


Jika dia telat pulang, omelilah dia tentang keterlambatannya itu. Jangan melebar sampai ke masalah keruntuhan ekonomi keluarga, dekandensi moral, jasadnya tak diterima bumi jika meninggal, tak akan ada perempuan yang bisa bertahan menjadi istrinya. Lalu intinya apa?

7. Pilih waktu yang tepat


Jangan mengomeli orang yang baru pulang kerja. Dia masih letih. Jangan juga mengomel dia dipagi hari, itu akan memperburuk moodnya 1 hari ini. Jangan mengomel di tengah malam buta, itu malah sangat mengganggu warga.
Lalu kapan waktu yang tepat?
Saya yakin Sahabat bisa menilai sendiri kapan waktu yang tepat untuk mengomel. Memang, yang paling baik itu adalah saat kesalahan itu berlangsung. Tapi akan lebih baik lagi jika kita mau sedikit bersabar menunggu. Siapa tau karena kesalahannya itu dia malah menjadi pribadi yang baik. Atau bisa jadi karena kesalahan itu hasilnya malah melebihi ekspektasi. Sudah banyak contohnya orang yang berbuat kesalahan malah menjadi orang yang luar biasa.

8. Persingkat durasinya


Jika bisa lebih singkat, kenapa harus diperpanjang? Hemat waktu dan energi. Biasanya pesan yang singkat lebih mudah diingat daripada pesan yang panjang. Masih banyak kerja yang seharusnya kita lakukan. Dia pun begitu.

9. Jangan lupa, dia juga adalah manusia


Nobody's perfect. Manusia itu wajar salah. Tapi, sebesar apapun kesalahannya dia masih bisa diharapkan untuk memperbaiki diri dan bertaubat. Jadi, jangan tumpahkan semua kekesalah hati pada omelan kita hari ini. Siapa tau besok atau lusa dia malah lebih baik dari kita. Bukankah sangat pantas baginya untuk gantian mengomeli kita? Apa kita mau diomei?

10. Berhati-hatilah terhadap orang yang sakit hati.


Seringkali diomeli itu bikin pedih, sakit hati dan dendam. Berhati-hatilah! Karena kita tak tau apa yang akan dilakukan oleh orang yang sedang sakit hati. Mereka bisa lebih buas dari singa yang lapar.

Jadi Sahabat, jangan hanya mencak-mencak mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak jelas ujung pangkalnya. Meskipun hati sedang panas tapi jangan sampai tak beradab ya!
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.