Breaking News
recent

Inilah Alasan Mengapa Peringatan Terjadinya Bencana Selalu Terlambat

Bencana alam kadang-kadang datang tanpa bisa diprediksi. Berapa banyak bencana yang telah menimpa warga dunia tanpa pemberitahuan dan peringatan terlebih dahulu dari pihak-pihak terkait. Apakah mereka tidak ahli dalam bidang yang mereka lakukan? 

Beberapa bencana bisa diprediksikan waktu dan kedahsyatannya, tapi tetap saja tidak bisa dipastikan. Malah, sebagian besar bencana diluar prediksi dari pihak yang berkompeten. Bahkan, yang sudah diramal malah tidak terjadi. Ramalannya meleset jauh. Itulah yang kita sebut dengan takdir.
Kali ini kita tidak membahas tentang takdir. Karena ini terlalu muskil untuk dibahas oleh orang-orang awam seperti kita. Kali ini kita hanya akan membahas tentang pertanyaan pelik ini, "mengapa peringatan terjadinya bencana selalu terlambat diumumkan?"


Baiklah Sahabat Populer, mari kita mulai dengan sebuah analogi.

Anggap saja saat ini Sahabat adalah seorang bupati pada sebuah kabuten yang memiliki penduduk hampir 2 juta orang.
Hari ini Sahabat mendapat peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk segera mengevakuasi seluruh penduduk di kabupaten Sahabat, karena menurut ramalan BMKG akan ada tsunami dahsyat yang akan terjadi pada bulan ini. Pihak BMKG yakin 85% datanya akurat.
Jika memang bencana itu terjadi maka bisa dipastikan bahwa semua penduduk di daerah Sahabat akan meninggal.

Kira-kira apa yang akan Sahabat lakukan?

Pada saat itu Sahabat betul-betul sedang berhadapan dengan buah simalakama. Dimakan mati ibu, tak dimakan mati ayah. Secara hitungan kasar Sahabat akan memiliki 3 pilihan yang memiliki konsekwensi yang sama beratnya.

PILIHAN PERTAMA
Peringatkan semua penduduk untuk segera mengungsi, menyelamatkan diri. Bawa apapun yang bisa dibawa. Tinggalkan tempat tinggal. Nyawa lebih penting.

KONSEKWENSINYA: Bisa dipastikan hampir selama 1 bulan kabupaten tersebut akan menjadi kabupaten mati. Kegiatan pelayanan, kesehatan dan pendidikan sama sekali tak jalan, kegiatan ekonomi dan investasi mati total disemua sektor, dan kegiatan pembangunan sama sekali berhenti.
Kerugian materi bisa dipastikan akan mencapai ratusan milyar bahkan trilyunan. Belum lagi kerugian non-materi, karena kegiatan pelayanan, kesehatan, dan pendidikan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Celakanya, setelah menunggu selama 1 bulan ternyata tsunami tak terjadi. Namun, kerugian yang ditanggung sudah hampir sama besarnya jika tsunami benar-benar terjadi.

PILIHAN KEDUA
Sahabat menunggu dalam rasa was-was. Tapi tetap tidak memberi peringatan kepada masyarakat tentang bencana tsunami yang mengancam. Dengan alasan, Sahabat tak ingin membuat masyarakat panik dan pergi mengungsi. Karena, itu akan sangat merugikan. Lagipula keyakinan BMKG hanya 85%. Sahabat hanya diam dan berdoa.
Sahabat membiarkan masyarakat tetap bekerja, sekolah, dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

KONSEKWENSINYA: Keselamatan jiwa warga sebanyak 2 juta orang ada pada keputusan Sahabat. Jika benar tsunami itu datang maka kematian mereka adalah karena kesalahan Sahabat yang tidak mengumumankan keadaan darurat.
Ternyata, tsunami itu benar-benar terjadi. Semua warga, termasuk Sahabat sendiri meninggal dalam bencana. Dan semua itu penyebabnya adalah Sahabat.

PILIHAN KETIGA
Sahabat memberitahu warga tentang ancaman yang akan menimpa dan mengajak semua warga bergotong-royong untuk membuat tindakan preventif. Tapi biasanya, jika alam marah akan sulit untuk dihindari dampak buruknya. Semua tindakan preventif seperti tak ada artinya.


KONSEKWENSINYA: Masyarakat akan panik, terpecah menjadi 2. Sebagian besar akan memilih untuk mengungsi, sebagian kecil yang lain tetap bertahan dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Jika tsunami ternyata tak terjadi, namun tetap saja kerugian yang diderita hampir sama seperti pada pilihan pertama. Karena hampir semua kegiatan membutuhkan pihak lain. Sedangkan, pihak lain itu pergi mengungsi.
Jika ternyata tsunami terjadi, maka kerugian materi dan nonmateri sama saja dengan pilihan pertama, plus, nyawa sebagian kecil warga yang tetap tinggal melayang karena ajakan Sahabat. Konsekwensi ini malah lebih berat.
Melihat beratnya konsekwensi dari semua opsi yang akan dipilih inilah maka biasanya pemerintah menunda untuk mengumumkan peringatan bencana. Pemerintah ingin benar-banar yakin hingga ke titik batas aman dihari terakhir. Pada saat keputusan harus dibuat, maka nyawa warga wajib menjadi prioritas utama. Bagaimanapun, keselamatan nyawa warga lebih penting dari semua materi yang ada. Maka, setelah menunda hingga batas aman terakhir barulah biasanya pemerintah akan memutuskan untuk menjalankan pilihan pertama.
Muhammad Junaidi

Muhammad Junaidi

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.