Friday, October 23, 2015

JOKOWI BUKAN TUHAN

No comments :
Di tengah penderitaan berkepanjangan yang kita alami di Sumatera dan kalimantan karena bencana kabut asap penulis melihat masyarakat seperti memiliki trend baru yang sangat mengkhawatirkan. 

Di dalam pekatnya kabut asap yang memedihkan mata ini iman kita seperti tergerus oleh emosi yang memuncak. Di dalam kepanikan kita mencari tempat bersandar. Sang Presiden tiba-tiba saja menjadi tuhan yang dimuliakan, yang diharapakan, yang dihina, dihujat, dan dimaki.

Masyarakat tiba-tiba saja terkotak-kotak menjadi bagian-bagian yang terjatuh dalam lumpur kemusyrikan. Penulis melihat paling tidak ada 5 kelompok masyarakat yang mulai jatuh ke tempat hina dikarenakan bencana kabut asap berkepanjangan ini. Meraka itu antara lain:



Golongan masyarakat pertama, yang tak suka pada kekerasan, menghiba-hiba kepada tuhan Jokowi agar berkenan turun tangan dan memberikan kasih sayang untuk menghentikan bencana ini. Jutaan status diupdate di jejaring sosial, ribuan video diunggah ke youtube, ribuan surat terbuka dimuat diberbagai media yang berisi permohonan kepada tuhan Jokowi agar mau datang dan lihat-lihat ke sini. 

Golongan masyarakat kedua, yang penuh emosi, menghujat tuhan Jokowi dengan jutaan ejekan, makian, umpatan, dan hinaan karena tuhan tak acuh lagi. Kalimat-kalimat kasar dan photo-photo seram diunggah diberbagai media dengan maksud untuk mengajak masayarakat untuk bertindak, berdemonstrasi, bahkan anarki. Menyulut kemarahan dan membakar emosi. 

Golongan masyarakat ketiga, yang pendendam. Mendoakan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, Tuhan Yang Maha Esa agar asap ini dipindahkan saja ke istana Jakarta, agar si tuhan Jokowi dan tuhan-tuhan kecil lainnya merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan di sini. Doa dipublis diberbagai media agar masyarakat banyak juga ikut mengaminkan.
Namun sayangnya kita lupa, bahwa setiap doa yang kita ucapkan selalu diaminkan oleh malaikat disektiar kita. Malaikat akan mengaminkan doa kita sembari berdoa kepada Allah SWT agar hal itu juga terjad kepada kita. Doa baik, akan kembali kebaikannya kepada kita. Begitu juga doa buruk, akan kembali keburukannya kepada kita. 

Golongan masyarakat keempat, laskar tuhan Jokowi. Mereka membela tuhan Jokowi dengan membabi buta. Mengunggah bukti-bukti semu dalam bentuk photo, video, dan memainkan logika yang naif dengan kata-kata. Seolah-olah tuhan Jokowi tetap yang paling benar, tuhan Jokowi saat ini sangat sibuk, tak ada waktu yang bisa dibuang untuk memikirkan masalah-masalah sepele, seperti kabut asap. Bukan hanya Sumatera dan Kalimantan saja yang harus diurus tuhan Jokowi. Masih banyak propinsi lain yang lebih membutuhkan sentuhan tangan tuhan Jokowi.
Segala upaya akan digunakan untuk menangkis semua ejekan dan hinaan yang ditujukan kepada tuhan Jokowi. Mereka membela dengan sumber daya yang mereka miliki. Seolah-olah mereka punya hutang nyawa dan hutang budi kepada tuhan Jokowi.

Golongan masyarakat kelima, masyarakat oportunis, yang melihat kesempatan ini sebagai moment untuk mewujudkan impian yang telah lama mereka pendam. Mereka mengangkat tema "Demi Masyarakat", dan mulai menaburkan benih-benih makar untuk mewujudkan negera yang berkedaulatan sendiri, keluar dari NKRI.  Mereka menyebutnya demi masyarakat. Tapi, entah masyarakat yang mana.
Padahal, sebagai salah seorang anggota masyarakat yang menderita karena kabut asap ini saya tak meminta banyak. Saat ini, saya hanya ingin asap ini hilang. Cukup!! Saya yakin sekali bahwa masyarakat ramai pun akan senada dengan suara saya ini.
Apa hubungannya antara kabut asap dengan pisah dari Indonesia? Memangnya jika negeri ini merdeka asap akan segera hilang? Kalau begitu mungkin saja kami akan setuju dengan ide itu. Tapi adakah jaminan itu? Atau jangan-jangan kami hanya akan diajak ke jurang yang lebih mengerikan. 

Kita memang perlu meminta tolong kepada pemerintah untuk memadamkan api. Jika perlu kita ingatkan mereka dengan sedikit keras bahwa itu adalah bagian dari tugas mereka membuat masyarakatnya aman. Tapi kita tak perlu berlaku lebay hingga kehilangan iman. Menghiba-hiba, marah-marah, berdoa yang tidak-tidak. Musyrik!! Memalukan!! Murtad!! 

Saat ini yang perlu kita lakukan adalah mengerjakan apa yang kita bisa sebaik-baiknya. Kurangi bicara, haramkan mengeluh, najiskan menghujat, banyakkan bekerja. 

Guru, dokter, pilot, ustad, dan pedagang tak perlu ikut turun semua memadamkan api jika memang tidak dibutuhkan. Kita percayakan saja kepada tim yang sudah dibentuk oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan juga bantuan dari luar negeri. Jika ingin ikut membantu bidang logistik nampaknya akan selalu terbuka untuk kita. Disanalah kita bisa menyalurkan bantuan, yang sebetulnya untuk diri kita, keluarga kita, dan sanak family kita sendiri. 

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)
 
Terakhir, ingat ya Sahabat Populer, kita sudah menderita karena asap di dunia. Jangan sampai kita menderita di akhirat karena kehilangan iman. Nauzubillah minzalik.

No comments :

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

reno test