Sunday, October 4, 2015

6 KONDISI KITA BOLEH MENCERITAKAN AIB SESEORANG (Bagian ke - 2, Selesai)

No comments :


Terlebih dahulu silakan baca bagian ke -1, klik di sini

3. Dengan Maksud Meminta Fatwa/Pendapat Kepada Orang yang Wajar

Suatu hari Rasulullah pernah didatangi istri si Fulan (ada baiknya saya tak menyebutkan nama orang itu). Si isteri berkata kepada Rasul, “Suami saya, si Fulan, sangat kikir. Bolehkah saya mencuri uang darinya?”
Terlepas dari boleh atau tidak jawaban Rasulullah SAW, yang jelas tindakan si isteri menceritakan aib si Fulan bisa ditoleransi. Karena tujuannya untuk meminta fatwa kepada orang yang tepat.


4. Orang yang Terang-terangan Sudah Tak Malu Melakukan Keburukan

Abang kita setiap malam minum-minum keras, mabuk-mabukan, dan tertidur di pinggir jalan. Sementara keluarga dan sanak famili tak ada yang peduli dengan perlakuannya.  Nah, untuk hal seperti ini ada baiknya kita katakan saja langsung kepada Abang kita yang suka mabuk-mabukkan itu bahwa semua yang dilakukannya itu adalah aib bagi keluarga. Jika dia tetap tak berubah maka sampaikan juga kepada keluarga kita yang lain yang punya kemampuan untuk mengubahnya.
Kalau dia sendiri tak malu melakukan perbuatan aib itu, sepertinya tak ada manfaatnya kita menutupinya dari orang lain. Malah kita dianggap orang yang bersekongkol menutup-tutupi perbuatan buruknya yang sudah nyata.



5. Untuk memperkenalkan orang yang tidak bisa dikenal kecuali menyebut kekurangannya/ keburukannya

“Pak, saya mau tanya, rumah si Husin di mana  ya?”
“Husin yang mana, Mas?” Jawab si Bapak.
“Husin yang guru itu lho, Pak!”
“Di sini ada 4 orang yang bernama Husin menjadi guru. Yang mana 1, Mas?”
Dengan amat terpaksa saya harus menyampaikan kekurangan si Husin.
“Si Husin yang pincang itu, Pak!” 
Nah, hal yang seperti ini masih bisa di toleransi.
Namun, jika tanpa menyebut kekurangan/keburukannya dia sudah bisa dikenal maka akan lebih baik tidak usah membuka aibnya.
“Si Husin yang kemaren masuk koran itu, Pak!”  Begini saja sudah cukup. Tak perlu menyebutkan bahwa alasan dia masuk koran itu karena mencuri ayam atau bermain judi.

6. Untuk memberikan peringatan kepada orang

Anak paman saya dilamar oleh teman saya. Saya tahu persis bahwa teman saya itu perilakunya tidak baik. Saya tidak suka jika dia menikah dengan anak paman saya itu.
Lalu, misalkan paman saya meminta saya untuk menceritakan tentang bagaimana perilaku teman saya itu sesungguhnya. Maka, di sini saya boleh menceritakan keburukan perangai teman saya itu sampai BATAS PENOLAKAN. Misalnya keburukan teman saya itu ada 15. Tapi, jika saya baru menceritkan 3 keburukan saja dia sudah ditolak maka sudah cukup segitu. Jangan ditelanjangi sampai 15.
Itu seandainya jika paman saya bertanya. Tapi, jika dia tidak bertanya maka saya boleh dan bahkan harus berinisiatif menceritakan keburukan perangai teman saya itu kepada paman saya. Dengan maksud agar dia ditolak.
Nah, Sahabat Populer, itulah 6 kondisi kita dibolehkan untuk menceritakan aib sesorang. Tapi hati-hatilah menilai. Menilailah dengan hati, bukan dengan nafsu. Karena nafsu akan membuat alasan kita menjadi bias. Ingat sekali lagi, jangan jadikan 6 hal ini sebagai dasar pembenaran dari perbuatan kita yang sesungguhnya sangat nista. Memakan bangkai kawan sendiri.
Luruskan niat bahwa kita melakukan ini karena terpaksa, tak ada jalan lain, tapi kebenaran harus ditegakkan. Kalau sudah begitu, in shaa Allah akan di ridhoi Allah SWT. 

Wallahu A'lam Bishawab

No comments :

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

reno test