Breaking News
recent

MENJADI KAYA BUKAN MASALAH (Bag. 1)

Saya memiliki teman yang berpenghasilan hampir Rp 11 juta/bulan. Dia masih sangat muda dan hanya memiliki tanggungan seorang isteri dan anak yang masih kecil. Sebuah keluarga dengan keamanan finansial yang boleh dikatakan terjamin. 

Jika dibanding dengan pendapatan yang pasti saya terima setiap bulan saya tertinggal 4 langkah dibanding beliau. Maksud saya, penghasilan saya hanya 1/4 dari penghasilan beliau. Bayangkan, betapa mirisnya hidup saya yang berada di luar garis aman secara finansial. Bekerja hanya sebatas untuk mencukupi kebutuhan hidup dari hari ke hari. Dan, hebatnya lagi sayalah orang yang menulis tips ini. Hahaha.. Terlihat sangat lancang ya Sahabat Populer....




Tapi begini, setiap saya ngobrol dengan teman saya itu beliau selalu terlihat suka membahas kerja dengan penghasilan hanya kisaran ratusan juta Rupiah, dan takut sekali jika membicarakan risiko merugi puluhan juta Rupiah. Padahal saya sudah seringkali melakukan yang dibicarakannya itu. Saat ini pun saya sedang mengambil risiko itu. Menggadaikan surat kepemilikan rumah yang saya punya untuk dijadikan modal usaha. Padahal rumah itu belum pernah saya tempati sendiri. Saya juga menggadaikan BPKB mobil Ayla yang baru saya beli tahun kemarin untuk modal usaha yang lain lagi.



Dibanding beliau saya sudah tidak begitu tertarik lagi membicarakan penghasilan dengan kisaran ratusan juta Rupiah. Saya juga tak begitu takut dengan risiko merugi kehilangan rumah yang baru saja saya lunasi atau kehilangan mobil yang baru saja saya beli. Padahal, seperti yang saya katakan diawal tadi gaji yang saya terima saat ini hanya 1/4 dari gaji beliau. 

Mengapa bisa begitu? Nah, disinilah saya mengambil kesimpulan bahwa saya lebih kaya dibanding beliau. Karena menurut saya menjadi kaya bukan masalah berapa banyak uang yang kita miliki saat ini dan seberapa besar penghasilan yang kita terima tiap bulan. Oleh karena itu, jangan takut menjadi kaya. Setiap orang pantas, berhak, dan bisa menjadi kaya. Caranyapun sangat mudah. Hanya cukup mengubah pola pikir. Iya, hanya perlu mengubah pola pikir. Cuma itu. 
Untuk lebih rinci begini..

1. Ubah pola pikir kita terhadap uang

Uang hanyalah kertas pindah. Terima saat ini 1 jam yang akan datang bisa jadi sudah habis semua. Oleh karena itu, jangan terlalu mencintainya. Dia hanya alat untuk mencapai tujuan kita menjadi kaya. 

Di Korea, dari film-film yang saya lihat, mereka malah tak pernah melihat uang. Mereka bekerja keras demi memperbesar digit angka-angka di sistem perbankan. Lalu mereka berbelanja dengan menggunakan kartu kredit atau cek. Jadi, hampir tidak pernah mereka melihat uang. Makanya mereka tak begitu takut memenuhi keinginan mereka.

2. Jangan Takut Mengambil Risiko

Jika saat ini Sahabat tak memiliki uang untuk dijadikan modal, benda apa yang Sahabat punya saat ini yang paling disayangi dan memiliki harga jual? Coba uji diri sendiri. Jual barang itu lalu jadikan modal usaha. Jika usaha Sahabat berhasil bukankah Sahabat bisa membeli puluhan benda yang semacam itu? 

Jika gagal? Nah, saatnya Sahabat tersenyum. Sahabat telah menjual barang yang paling Sahabat sayangi untuk membayar uang "kuliah". Investasi!! Kadang-kadang biaya kuliahnya memang mahal. Tapi, lihatlah, sekarang Sahabat sudah punya ilmu untuk mengantisipasi kejadian serupa dimasa yang akan datang. Percayalah, tak ada orang yang terlalu kaya hanya dengan bermain aman. Belahlah durian itu walaupn banyak duri tajam yang akan melukai kulit tangan. Karena didalamnya ada isi yang sangat kita inginkan. Jika luka, ahh.. itu cuma luka kecil.

3. Berteman dengan orang-orang yang punya Kemampuan dan mau bekerja 

Hanya dengan 10 orang pemuda saja Soekarno bercita-cita ingin menggemparkan dunia. Bayangkan, hanya dengan 10 orang pemuda saja.

Apa jadinya kalau kita punya begitu banyak teman dan kita bantu mereka menghasilkan sesuatu yang paling mereka inginkan? Bukankah setiap teman kita memiliki minimal 1 keahlian?

Tapi ingat, tujuan kita bukan memanfaatkan keahlian mereka. Tapi, kita menyediakan jalan untuk mereka melakukan apa yang paling mereka inginkan. Hasil dari kerja itu kita pakai untuk berinvestasi pada usaha lain. 


(Bersambung ke bagian 2). 
Jangan berhenti di sini karena Sahabat baru membaca 1/3 dari langkah-langkahnya. Tunggu ya, I'll be back very soon.
Randu Arbitra

Randu Arbitra

No comments:

Post a Comment

Pengunjung yang baik tidak akan meletakkan link hidup di kolom komentar!
Please dont put your link in comment box.

Powered by Blogger.